BERTEMU CERITA EPS 1 || IBU DI BANDARA
IBU DI BANDARA
Dua hari lalu, sebelum keberangkatanku menuju Surabaya. Pukul tujuh belas Waktu Indonesia Bagian Barat, dengan buru-buru aku lari ke bandara mushola karena belum sempat sholat ashar. Ku basuh muka, tangan dan kaki dengan air wudhu lalu bergegas sholat. Setelah selesai ku pikir lebih baik aku menunggu disini saja. Adzan maghrib juga sebentar lagi. Entah sholatku di terima atau tidak, wallahualam.
Disana aku menunggu sambil mengambar dalam buku sketchku, ku gambar wanita yang sedang memakan permen bulat warna-warni. Tidak lama ada ibu-ibu yang menyapa dan tersenyum
"Nunggu maghrib juga?", katanya.
"Iya Bu, pesawat saya masih jam 18.30 saya mau sekalian sholat dulu. Kalau Ibu?", tanyaku pada Ibu.
"Sama saya juga, hehe.. Adek mau kemana?", tanya sang Ibu.
"Saya mau ke Surabaya Bu", beberapa percakapan terus berlanjut selama menunggu waktu sholat maghrib. Dalam percakapan singkat ini si Ibu sangat antusias menceritakan perjalanan hidupnya dan aku mendengarkan dengan seksama. Tak terasa setengah jam lebih kami mengobrol dan saling bertukar pikiran hingga tawa. Lalu kami berjamaah sholat maghrib dilanjutkan menunggu pesawat kami masing-masing karena kebetulan kami beda tujuan.
Setelah selesai sholat aku melipat mukenaku dan segera bergegas kembali ke ruang tunggu. Aku menahan rasa lapar karena makanan di bandara cukup mahal, jadi aku melanjutkan menunggu pesawat sambil kembali menggambar dalam buku sketch. Entah kenapa kata-kata sang Ibu tadi tiba-tiba terus terlintas di kepala ku. Dari mulai semua cerita perjalanan hidupnya, kisah cintanya hingga nasehat yang ia berikan untuk anak muda sepertiku.
Ahh.. aku belum menceritakan kisah Ibu tadi. Jadi Ibu ini dulunya adalah seorang konsultan, dia lulusan Hukum Universitas Swasta di Indonesia. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak cukup pintar untuk mengambil Universitas Negeri, mau tidak mau dia harus ambil Swasta yang notabene terkenal sangat mahal. Untuk mencukupi semua kebutuhan kuliahnya ia rela kerja part time sore hari diluar jam kuliah. Berat rasanya melihat orang lain sibuk jalan-jalan, main dan menghabiskan waktu bersama teman, sedangkan dia mencari uang.
Namun, dititik lelah Ibu itu berdoa kepada Tuhan agar ia selalu diberi semangat dan kekuatan. Anatara keajaiban atau bukan dia jatuh cinta pada pembeli yang sering datang ke cafe dimana ia bekerja. Dan tak lama setelah itu mereka berpacaran. Kata Ibu, hidupnya berwarna dan semangat melebihi hari-hari biasanya. Sampai pada suatu ketika mereka harus dipisahkan karena pacar sang Ibu bekerja di Malang, padahal sebelumnya mereka sama-sama di Jakarta.
Cobaan demi cobaan memang selalu ada, dari mulai LDR hingga akhirnya si Ibu sulit mendapat pekerjaan karena dia berasal dari Universitas Swasta. Tapi Ibu tidak pernah menyerah, bisa ratusan lamaran yang ia kirimkan, padahal ini sebelum corona datang tapi cari pekerjaan sudah sesulit ini. Tak lama setelah ia menjadi konsultan di perusahaan di Jakarta, setiap 3 bulan sekali Ibu dan pacarnya selalu menyempatkan bertemu entah di Malang, Jakarta atau Jawa Tengah.
Enam tahun berpacaran akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Belum berakhir sampai disana, mereka masih LDR dan kini menyempatkan sebulan sekali untuk bertemu. Setelah setahun lamanya mereka LDR dalam status pernikahan mereka tersadar dan ada kata-kata nya yang aku ingat
"Sebenernya kita ini cari apa? Uang atau kebahagiaan? Kalau memang uang bisa membuat kita bahagia kenapa kita menikah?", kata sang Ibu.
Tak lama setelah itu sang Ibu memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan tinggal bersama suami, walaupun masih rumah berstatus KPR. Sang Ibu bantu-bantu berjualan di rumah sambil mencari pekerjaan. Bertahun-tahun kemarin mereka terlalu banyak menghabiskan waktu dan biaya hanya untuk sebuah pertemuan yang sebenarnya bisa dicegah dengan menghilangkan salah satu ego.
Kalian tahu? Saat aku bertemu Ibu itu saat ini sudah memiliki 2 orang anak yang kuliah di Universitas Negeri dan Ibu ini sudah memiliki segalanya, kebahagiaan dengan orang terkasih dan kebahagiaan dengan uang. Dan rumah Ibu itu? Sudah lunas. Pesan dari sang Ibu, jangan habiskan waktu, uang dan tenaga hanya untuk mengejar kebahagiaan berdasarkan ego.
Komentar
Posting Komentar