CERITA CINTA EPS 15

JARAK DAN RINDU

       Angin, malam itu berhembus pelan menusuk sampai ke tulang. Aku lupa, aku belum mengenakan jaket sehingga kulitku langsung bertabrakan dengannya. Kalau saja angin ini bergembus hangat, aku hanya ingin sendirian. Kadang kesendirian mengingatkanku pada sebuah kepastian. Manusia pasti akan sendiri, entah kapan.
            Sembilan belas empat puluh satu Waktu Indonesia Bagian Barat, tepat saat ini aku mendengar suaramu dari sebuah hembusan angin. Angin ini datang berbeda satu jam dari waktu ku saat ini. Perjalanannya jauh membuatnya dingin, lirih dan berkata "aku sedang lelah". Andai saja bahuku ada disampingmu saat ini sudah pasti kepalamu bersandar, dan tanganku menepuk kepalamu perlahan dengan kata-kata "masih ada aku disini". Tangan tidak pernah penuh dengan bara api, tapi tetap hangat seperti pelukan Ibu.
          Angin lirih ini kemudian pergi entah kemana, aku mulai masuk ke dalam rumah dan ingin bergegas memejamkan mata. Berharap esok akan datang selalu lebih cepat hingga tidak terasa tahun ini akan berakhir. Belum sempat aku menarik selimut untuk menghangatkan diri, tiba-tiba hujan turun. Hujan sering datang tiba-tiba, kadang aku benci hujan, karena dia tidak pasti. Tapi hujan sama denganmu, tidak pasti. Datang dan pergi tanpa memikirkan aku.
           Aku tidak pernah setuju pada sebuah keegoisan, sembilan ratus enam puluh kilometer itu cukup egois untuk membendung rasa. Hujan semakin deras, membuatku sulit untuk tertidur. Kalau saja ada kamu disampingku sudah ku minta kamu menyanyi dan mengusap kepalaku sampai aku tertidur. Sama seperti saat aku masih bayi. Kalaupun sudah pasti bertemu setiap lima belas menit, kenapa harus setiap tahun? Rasa tidak akan pernah hilang jika kita telah tulus. Seperti angin yang setia menemani hujan sehingga dia mengantarkan hujan pada tempat yang benar. Kalau saja angin egois dan pergi meninggalkan hujan. Hujan tidak akan pernah turun pada tempat yang benar.
             Mereka tidak pernah berkata bosan ataupun lelah, kadang manusia tidak pernah puas pada apa yang dia miliki. Dan saat tidak sempat bertemu kembali mereka menyesal. Seperti kemarau, yang datang bersama angin kering selama 6 bulan dan kita sibuk mencari sumber air. Padahal 6 bulan lalu hujan datang bersama angin dan kita membencinya. Tuhan tidak pernah memberitahumu kapan kamu akan bertemu hujan dan angin selanjutnya, maka jangan pernah membenci. Kalau saja bisa diulang kamu akan menyukai hembusan angin bersama hujan setiap malam kemarin, sebelum kemarau datang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA CINTA EPS 19

CERITA CINTA EPS 16

CERITA CINTA EPS 4