CERBUNG EPS 1

OLEH SIAPA KITA DILAHIRKAN


    Kala itu aku mencoba menutup mata masalah ini, ketika semua orang yang ku lihat bersama keluarga mereka. Memang benar aku hanya sendiri di kota orang, bahkan kota ini terlihat begitu besar sampai aku tak sanggup mengelilinginya sendiri hanya bermodalkan google maps. Aku mulai merasakan terjadi perbedaan antara aku dan orang lain, apakah aku mulai mengenal rasa iri?

***
     Selama ini aku melihat jajaran orang desa yang melihat hidup ini berkecukupan, namun setelah aku berada di kota ini aku mulai sadar bahwa dunia ini luas. Kendaraan yang aku lihat tidak hanya ber plat nomor sama namun sangat bervariasi. Aku sadar disinipun banyak orang rantau. Tapi kenapa mereka bisa begitu nyaman? Awalnya aku berfikir apakah ini hanya masalah adaptasi, ternyata bukan ini masalah gaya dan pola hidup. Kota besar mengajarkanku bagaimana perbedaan antara kaum minor dan mayor, antara kaum berkelompok dan individu, antara kaum sosialita dan rakyat biasa. Terkadang entah apa aku yang terlalu perasa atau memang mereka memandang sebelah mata saja. Entahlah, biarkan begitu.
      Pertama kali aku menjajaki bangku perkuliahan aku anak desa yang bisa masuk ke kalangan anak kota yang bisa dibilang makan bukan di pinggir jalan lagi karena susah mencari lahan parkir. Aku mendapat tumpangan mobil ber ac yang tidak mengenal apa itu kulit gosong karena terik matahari, baju basah karena hujan atau sepatu putih bercak coklat karena terkena lumpur di lubang-lubang tepi jalan. Tetapi aku juga masih sering bercanda dan curhat dengan teman yang makan hanya dengan mie di setiap penguhung bulan karena belum mendapat kiriman uang, jalan kaki ke mesin ATM hanya untuk melihat apakah saldo beasiswa sudah masuk atau belum dan bingung memilih baju karena semua baju basah bekas kehujanan.
      Semua temanku ada baik dan buruknya bagiku. Kadang aku merasa nyaman dengan semua fasilitas teman super kaya ku, disisi lain aku merasa sebenarnya aku lebih nyambung berbicara dengan teman kalangan biasa yang tinggal di asrama mahasiswa karena bisa dibayar cicil 4 kali. Semua terasa nyaman, tapi aku bukan parasit. Bukannya aku tidak mau berteman dengan mereka yang tidak bisa mengayuh sepeda, tapi aku merasa aku yang tidak bisa mengimbangi mereka secara terus menerus karena memang uang saku ku tidak sebesar yang mereka punya. Bahkan uang asrama ku selama satu tahun bisa habis dalam satu bulan standar kehidupan mereka. Mereka bukan sombong, tapi mereka juga layak menentukan mereka lebih nyaman berteman dengan siapa, begitu juga aku.
       Tuhan bisa memilih aku lahir dari keluarga siapa, bukan aku yang memilih. Kalaupun pada akhirnya aku memang hanya pada lingkup kalangan biasa, aku bisa apa. Aku dipilihkan Tuhan bukan terlahir dari keluarga konglomerat yang menikmati malam minggunya berlibur keliling dunia bersama keluarga. Boro-boro ke luar negeri, aku saja pernah empat tahun tidak pergi ke rumah nenek yang hanya beda kota karena tiket mudik yang sangat mahal. Sudahlah aku tidak ingin mengeluh, aku hanya sempat terkejut dengan perbedaan yang begitu signifikan ini.
     Semester pertama masih ku lalui dengan filtrasi teman dan beradaptasi pada lingkungan perkotaan yang sesungguhnya penat, penuh polusi tidak sedamai keadaan di pedesaan. Untung saja aku mulai cepat beradaptasi sampai aku melupakan jatuh bangunnya sebelum aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kampus ini. Emm salah, lebih tepatnya Tuhan yang memilihkan ku untuk berkuliah di tempat ini. Mungkin banyak anak yang bisa tinggal memilih dan orang tuanya tinggal bayar, seperti jajan nasi di warteg. Aku bukanlah bagian dari mereka tapi aku punya banyak kisah memilukan yang aku ingin ceritakan ke orang-orang. Baiklah akan aku jadikan pelajaran saja, pasti Tuhan selalu punya rencana indah pada takdir-takdirnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA CINTA EPS 19

CERITA CINTA EPS 16

CERITA CINTA EPS 4