CERPEN EDISI III


LAMUNAN PENGINGAT MASA LALU

Kring…. Kring….
Sore itu terdengar suara telpon berdering.
“Hallo...
“Hallo Mama, doakan Adek ya, besok Adek sidang tugas akhir, semoga lancar dan cepat nyusulin Kakak”
“Aamiin Dek, Mama doakan ya semoga kamu diberi kemudahan dan kelancaran.”
“Iya Ma…, Aamiin. Mama lagi ngapain?”
“Mama masih masak. Tadi barusan pulang dari warung”
“Jaga kesehatan ya Ma…, salam untuk Kakak. Adek mau lanjut belajar lagi ya....
“Iya sayang, jangan lupa sholat, makan dan terus berdoa ya”
Tut..tut..tut….
Berakhirlah percakapan singkat pada sore itu antara aku dan anak peremuanku. Dia menjadi perantau karena melanjutkan pendidikan di jurusan teknik sipil kota sebelah. Dari kecil dia bercita-cita menjadi seorang arsitek, namun ketika mendaftar di sebuah universitas ia diterima di bidang lain. Tapi tak apa, dia terlihat senang menjalaninya.
“Assalamu’alaikum” (suara dari luar rumah)
“Waalaikumsalam. Sudah pulang Kak? Kok jam segini sudah pulang? Kerjaannya udah selesai?
“Udah Ma... Tadi di kampus cuma liat-liat persiapan wisuda bulan depan, mahasiswa barunya pada latian arak-arakan, he he “
Sambil memakan tempe yang kuhidangkan, anak laki-lakiku bercerita tentang hari-harinya. Tak ku sangka kini dia akan segera wisuda. Waktu terasa berjalan begitu cepat, tak lama lagi dia akan menyandang gelar sarjana. Terkadang bisa menyekolahkan mereka hingga sarjana terasa seperti mimpi.
Aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang bekerja menjadi penjual makanan di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Usaha ini baru ku rintis tiga tahun yang lalu. Aku memulainya dari awal karena usaha yang dulu telah bangkrut.
“Bu, pesan nasi kotak 100 porsi buat Hari Minggu ini bisa? Saya mau merayakan ulang tahun anak saya.
“Oh... bias mas
Alhamdulillah, akhir-akhir ini, banyak yang memesan nasi kotak atau catering dari bisnis yang ku kelola. Disaat anak-anakku sibuk menyiapkan tugas akhir dan skripsinya aku sibuk mencarikan biaya kebutuhan hingga mereka wisuda. Namun, aku tidak sendiri. Dua anakku ini sering membantu mengumpulkan uang dengan bekerja part time. Terkadang anak perempuanku menjadi guru privat di suatu lembaga bimbingan belajar, dan tak jarang anak laki-laki ku menjadi pelayan sekaligus pengisi acara di sebuah  café dekat kampusnya. Mereka adalah anak-anak yang tangguh dan bisa diandalkan.
***
Teringat tiga tahun lalu, usahaku bangkrut dikarenakan banyaknya pesanan yang tidak dibayar oleh para pembeli nakal. Saat itu aku sudah tidak memiliki harapan pada usaha tersebut, uang dan tabunganku mulai menipis dan semakin sedikit. Rasa takut sering mendatangiku, terlebih lagi ketika anak-anakku meminta uang semester untuk kuliah mereka. Ingin rasanya berteriak, berkeluh kesah dan lari bersembunyi dari semua ini, namun inilah kenyataan yang harus kuhadapi. Aku terus berusaha mencari uang, walaupun harus berhutang atau menjual hal-hal yang aku miliki. Yang ada dalam pikiranku saat itu hanyalah “mereka harus kuliah hingga sarjana”.
Bahkan pada saat itu kami pernah mengalami suatu kejadian yang selalu membuatku meneteskan air mata ketika mengingatnya, hal itu terjadi ketika anak laki-lakiku akan pergi kuliah.
“Ma.., sepatu Kakak sudah rusak. Boleh beli sepatu baru ya Ma?”
“Boleh sayang, mau beli yang harganya berapa? Kakak sudah punya uang berapa? Nanti Mama cariin uangnya kalau kurang”
“Yang biasa aja Ma, yang penting layak dipakai. Tabungan Kakak udah cukup kok Ma”
Tak lama setelah itu telpon berdering,  anak perempuanku yang berada di perantauan bercerita bahwa minggu ini dia harus mengikuti kuliah lapangan dan dia sedang membutuhkan biaya untuk mengikutinya. Pada saat itu pikiranku tiba-tiba hilang, aku tidak bisa berkata apa-apa mengingat dompetku yang sedang kosong, namun tanpa kusadari aku telah mengiyakannya sambil memberikan senyuman bahagia kepadanya. Anak laki-lakiku yang sebelumnya berbicara denganku sadar dan ia dapat menyadari senyumanku yang bahagia namun palsu itu. Dia juga tahu jika sekarang kondisi ekonomi kami di rumah sedang sangat minim. Akhirnya dengan segala keikhlasan, uangnya yang ia tabung selama ini untuk membeli sepatu baru dia berikan padaku sambil berkata
Ini buat Adek ma. Kakak beli sepatunya nanti saja, sepatu Kakak yang sekarang juga masih bisa dipakai kok. Biar dipakai Adek dulu uangnya”
Hati ini menjerit serasa ingin berteriak, menangis, dan histeris karena aku sadar bahwa akulah yang seharusnya mencukupi kebutuhan mereka tanpa harus mengorbankan salah satu kebutuhannya. Namun aku tersadar bahwa aku tidak boleh terlarut dalam kesedihan ini, aku juga harus bersyukur karena aku telah dianugerahkan anak-anak yang dapat memahami dan menerima keadaan seperti ini. Aku harus bangkit dari kondisi ini, kedua anakkulah yang selalu yang selalu menjadi motivasiku untuk terus membanting tulang ini.
***
Satu demi satu pesanan pembeli kulayani. Terkadang jualanku yang tak habis karena sepi pembel,  ku berikan pada tetangga-tetangga yang lebih membutuhkan. Kadang banyak pembeli yang mengantri untuk membeli makanan, namun terkadang juga hanya ada sedikit pembeli yang bahkan hanya sekedar mampir untuk minum teh. Namun aku tahu semua itu adalah rejeki dan harus tetap disyukuri.
Sebulan telah berlalu, berkat pesanan 100 kotak nasi di acara ulang tahun tiga minggu yang lalu membuatku memiliki uang yang cukup untuk mempersiapkan hadiah wisuda anak pertamaku. Puluhan bouquet bunga ia dapatkan dari teman-teman dan kerabatnya yang datang di acara tersebut. Aku tersenyum dengan hati yang lega, karena satu impian dan tanggungjawabku untuk menjadikan anak laki-lakiku seorang sarjana telah tercapai.
Telah kupersiapkan acara syukuran sebagai hadiah kecil perayaan kelulusan anak pertamaku. Banyak tetangga dan sanak saudara yang datang untuk memberi selamat atas keberhasilannya menjadi seorang sarjana. Aku sangat senang dan berharap anak perempuanku dapat hadir pada acara ini, namun aku mengerti jika ia tidak bisa pulang ke rumah sekarang dikarenakan kesibukannya menjalani sidang tugas akhir. Sore itu ku lihat raut wajah bahagia dari anak laki-lakiku dan suara tangis haru dari adeknya yang terdengar melalui telpon.
“Selamat ya Kak. Aku akan menyusul Kakak. Aku ingin segera pulang” katanya dalam telpon dengan tersedu-sedu.
Tidak sampai satu tahun dari hari perayaan itu anak perempuanku akhirnya dapat menyusul kakaknya. Aku dan anak laki-lakiku menghadiri acara kelulusannya dengan gembira dan penuh tangisan bahagia. Hari ini adalah hari terbesar dalam hidupku. Impian dan cita-citaku untuk menjadikan mereka berdua seorang sarjana telah tercapai. Aku merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia.
***
“Nenek… Nek masuk ke dalam yuk. Diluar dingin Nek. Bunda sudah masak sayur sop kesukaan Nenek”
Terdengar suara nyaring dari dalam rumah. Aku tersadar dari lamunanku, kulangkahkan kakiku yang lemah perlahan masuk ke dalam rumah di bantu oleh cucu perempuan kesayanganku. Terpajang foto-foto kelulusan anakku disepanjang dinding ruang tamu rumah. Kini semuanya hanya bisa kuingat dan bayangkan, apa saja yang telah kulalui bersama anak-anakku dulu telah berbuah manis. Aku dan anak-anakku telah berhasil keluar dari keadaan terendah kami, dan akhirnya bangkit kembali menjadi seperti apa yang kami impikan. Hanya sebatas rasa syukur dan tangisan bahagia yang dapat membalaskan segala kebahagiaan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA CINTA EPS 19

CERITA CINTA EPS 16

CERITA CINTA EPS 4