CERPEN EDISI II
Valen
Setahun sudah berlalu, raport
hasil belajar juga sudah dibagikan, seperti 2 semester lalu, aku selalu
mendapat peringkat pertama sedangkan Valen berada dibawahku. Siang ini akan
diumumkan pembagian kelas yang baru sesuai jurusan IPA, IPS ataupun Bahasa.
Sungguh aku tidak bisa membayangkan jika aku harus berpisah dengan Valen,
karena saat itu teman yang benar-benar dekat denganku hanyalah dia. Hatiku
berdebaran, tanganku dingin, dan aku sangat panik, bahkan paniknya melebihi
saat-saat pembagian raport. Akhirnya sang wali kelas mulai membacakan nama-nama
murid berawal dari abjad terdepan, dan alhasil nama ku dan nama Valen berada
pada kelas yang sama yaitu XI IPA 1. Saat itu rasanya aku meleleh dan sangat
bahagia. Tiba-tiba ada yang menutup mataku menggunakan tangan, aku sudah bisa
menebak bahwa ini adalah Valen, karena siapa lagi yang suka menjahiliku seperti
ini selain dia.
"Siapa
hayoo?"
"Valen,
lepasin, jail banget sih kamu"
Setelah melepaskan tangannya dia
pun mencubit pipiku sambil berkata "Mungkin kita berjodoh dan tak
terpisahkan". Kata-kata itu yang selalu ku ingat hingga saat ini, entah
dia hanya bercanda atau pun tidak, namun aku senang mendengarnya.
Jumlah murid di dalam kelas
adalah 32 anak, yang terdiri dari 16 wanita dan 14 pria, secara otomatis teman
sebangku ku adalah seorang wanita. Akhirnya aku duduk bersama Nadin. Nadin
ternyata adalah teman SMP ku, walaupun aku tidak terlaku akrab dengannya, namun
untuk standar teman baru, dia sangat baik, asik dan menyenangkan. Banyak
kesamaan dari kami, maka dari itu tanpa perlu adaptasi terlalu lama aku nyaman
dengannya. Ternyata Nadin adalah anak yang pandai bergaul, dalam waktu satu
minggu saja, dia sudah terlihat akrab hampir dengan semua teman sekelas, dan
karena saat itu aku dekat dengan Nadin maka aku juga cepat akrab dengan yang
lain sepertinya.
Valen, sudah hampir satu bulan
ini aku tidak pernah pergi bersamanya, mungkin karena kami sibuk dengan teman
baru kami masing-masing. Namun, pagi ini dia tampak berbeda, dari cara
berpakaian, penataan rambut dan gaya nya sangat jauh dari biasanya. Baju
dikeluarkan, sepatu berwarna putih, dasi tidak dipakai, dan rambutnya sedikit
berwarna merah jika terkena sinar matahari. Aku memanggilnya
"Valen?"
"Hai
manis, udah berangkat aja, tumben."
"Kamu
kok keliatan beda gitu ya?"
"Beda
gimana? Emm.. Oh ini, yaa biar jadi anak gaul, gimana ? Ganteng kan?"
"Ganteng
apaan. Dasar kamu."
Tidak banyak percakapanku dengan
Valen pada hari itu, aku rasa dia sudah jauh berbeda dan berubah. Bahkan
nampaknya dia sudah sedikit melupakanku.
Sepulang sekolah, aku melihat
segerombolan orang asik nongkrong di taman sekolah. Saat itu aku tidak sendiri,
aku sedang bersama Nadin. Aku terus mengamati satu per satu gerombolan itu, dan begitu terkejutnya diriku saat melihat Valen
berada diantara gerombolan itu. Nadin berkata padaku bahwa gerombolan itu
adalah Geng Hero.Geng Hero, ya itulah nama geng turun temurun yang paling
terkenal di sekolah ku, geng itu terdiri dari cowok-cowok kelas XI. Setiap
tahunnya geng itu mencari anggota baru. Anak yang masuk dalam anggota geng itu
bisa dibilang adalah anak orang kaya, tampan dan terkenal di sekolah. Kini aku baru menyadari ternyata Valen
tergabung dalam anggota geng itu dan hal inilah yang menyebabkan ia berubah.
...
Tak terasa hampir satu tahun
berlalu, hubunganku dengan Valen kini telah renggang dan terasa sangat jauh.
Hampir tidak pernah kami pergi bersama lagi, jangankan pergi ngobrol saja
jarang. Akhir-akhir ini ia sering membolos, banyak tugas yang tidak
dikumpulkan, padahal hanya sekitar 3 minggu lagi kami akan menghadapi ujian
kenaikan kelas.
Pagi-pagi sekali aku terbangunkan
oleh suara handphone, aku memang tidak berniat bangun pagi saat itu karena ini
adalah hari minggu.
"Hallo", dengan nada
aneh bangun tidur.
"Hai cantik, bangun gih. Aku
tunggu di depan ya, 15 menit udah rapi, kita pergi"
"What? Kamu dimana?",
aku terkejut karena itu adalah suara Valen.
"Aku udah di depan rumah,
udah sana mandi, cepetan, aku tunggu"
"Sumpa? Kamu ini, kenapa
ngga bilang dulu sih"
"Gausah banyak tanya deh,
sana mandi"
"Iya deh iya"
Tanpa berpikir panjang aku segera
mandi dan berdandan. Sekitar 30 menit kemudian, aku keluar rumah. Kulihat Valen
membawa setangkai bunga mawar, dan ia nampak rapi sekali. Dengan berlari ia
membukakan pintu mobil untukku. Aneh memang, aku merasa ada yang berbeda
padanya hari ini.
"Kamu mau ngajak aku kemana?
Pagi-pagi banget"
"Ada deh, suatu tempat. Ini
udah jam 10 Ta, kamu aja yang kesiangan bangunnya"
"Iyaa tapi kan, ini hari
libur Len"
"Udah deh aku mau kasih kamu
kejutan"
Mendengar Valen bicara seperti
itu, membuat hatiku berdebar. Ini bukan hari ulang tahunku, ulang tahun dia
juga bukan, hari spesial kita juga bukan, lalu apa yang Valen maksud. Sepanjang
perjalanan aku masih memikirkan kejutan dari Valen, tapi aku juga tidak mau
besar kepala, karena aku takut aku kecewa dengam prediksiku sendiri.
Sesampai di tempat tujuan Valen
menutup mataku dan menuntunku hingga ke tempat yang ia maksud. Rasanya saat itu
hatiku semakin berdebar, apakah jangan-jangan Valen akan menyatakan cinta
padaku? Ah..Tapi rasanya tidak mungkin. Kami tidak mungkin saling jatuh cinta,
kami adalah sahabat. Namun, hal yang ia lakukan ini sangat membuatku penasaran.
"Sebentar ya,
satu...duaa...tigaa...buka matanya" (kata Valen sambil membuka penutup
mataku perlahan)
Cantik, anggun, mempesona dan
sempurna. Itu adalah hal pertama yang kali aku lihat. Seorang wanita cantik
seumuran dengan kami berdiri di depanku. Ya itulah yang Valen maksud. Ternyata
ia akan memperkenalkan aku pada pacar barunya bernama Citra. Gadis belia yang
berasal dari SMA 53, dan dia adalah seorang dancer. Pantas saja ia
sangat cantik dan sangatlah ideal. Jujur saja aku sangat terkejut dengan
kejutan dari Valen pagi ini. Bukan perasaan cemburu tapi entah mengapa rasanya
begitu aneh dan canggung. Setelah cukup lama kami mengobrol, sepertinya dia
adalah gadis yang baik. Dia terlihat sangat bersahabat. Entah mengapa
kesenanganku bercampur dengan rasa sakit mendalam. Perasaan ingin lari dan berteriak
sekencang-kencangnya, tapi aku sadar diri.
...
Pertemuanku dengan sang gadis
pujaan hati Valen membuatku tersadar kami sudah saling dewasa , tidak saling
mengandalkan dan memiliki perasaan bebas yang memang sudah sewajarnya terpikat
satu sama lain. Aku yang hanya bisa memikirkan bahwa Valen adalah milikku, itu
salah. Aku hanya belum bisa membebaskan diriku bahwa dunia ini masih luas dan
panjang. Valen hanyalah satu dari jutaan manusia diluar sana yang belum ku
jelajah. Sayang bukan berarti cinta, aku sayang pada Valen sebagai teman
bukanlah cinta sebagai kekasih.
Komentar
Posting Komentar