CERPEN EDISI II



 Valen

Sewaktu SMA aku adalah anak yang bisa dibilang pintar, rajin dan selalu mengikuti aturan sekolah, mengerjakan PR dan tugas adalah kewajiban, bisa dibilang aku adalah anak yang mengedepankan akademik. Seiring berjalannya waktu, aku dekat dengan seorang pria yang merupakan teman sekelasku pada waktu itu. Pria itu bernama Valen, dia adalah lulusan kelas unggulan sewaktu SMP, kecerdasannya tak dapat diragukan lagi, selain dia pintar, dia juga tampan dan dia adalah pria yang sangat perhatian dan menghargai wanita. Aku sangat dekat dengannya, dari mulai mengerjakan tugas bersama, pergi makan bersama, hingga menghabiskan waktu luang dengan jalan-jalan bersama. Aku selalu merasa nyaman dan bahagia bersamanya, namun rasa ku padanya tidak lebih dari seorang sahabat, bahkan aku sudah menganggap ia sebagai kakakku sendiri.
Setahun sudah berlalu, raport hasil belajar juga sudah dibagikan, seperti 2 semester lalu, aku selalu mendapat peringkat pertama sedangkan Valen berada dibawahku. Siang ini akan diumumkan pembagian kelas yang baru sesuai jurusan IPA, IPS ataupun Bahasa. Sungguh aku tidak bisa membayangkan jika aku harus berpisah dengan Valen, karena saat itu teman yang benar-benar dekat denganku hanyalah dia. Hatiku berdebaran, tanganku dingin, dan aku sangat panik, bahkan paniknya melebihi saat-saat pembagian raport. Akhirnya sang wali kelas mulai membacakan nama-nama murid berawal dari abjad terdepan, dan alhasil nama ku dan nama Valen berada pada kelas yang sama yaitu XI IPA 1. Saat itu rasanya aku meleleh dan sangat bahagia. Tiba-tiba ada yang menutup mataku menggunakan tangan, aku sudah bisa menebak bahwa ini adalah Valen, karena siapa lagi yang suka menjahiliku seperti ini selain dia.
"Siapa hayoo?"
"Valen, lepasin, jail banget sih kamu"
Setelah melepaskan tangannya dia pun mencubit pipiku sambil berkata "Mungkin kita berjodoh dan tak terpisahkan". Kata-kata itu yang selalu ku ingat hingga saat ini, entah dia hanya bercanda atau pun tidak, namun aku senang mendengarnya.
Jumlah murid di dalam kelas adalah 32 anak, yang terdiri dari 16 wanita dan 14 pria, secara otomatis teman sebangku ku adalah seorang wanita. Akhirnya aku duduk bersama Nadin. Nadin ternyata adalah teman SMP ku, walaupun aku tidak terlaku akrab dengannya, namun untuk standar teman baru, dia sangat baik, asik dan menyenangkan. Banyak kesamaan dari kami, maka dari itu tanpa perlu adaptasi terlalu lama aku nyaman dengannya. Ternyata Nadin adalah anak yang pandai bergaul, dalam waktu satu minggu saja, dia sudah terlihat akrab hampir dengan semua teman sekelas, dan karena saat itu aku dekat dengan Nadin maka aku juga cepat akrab dengan yang lain sepertinya.
Valen, sudah hampir satu bulan ini aku tidak pernah pergi bersamanya, mungkin karena kami sibuk dengan teman baru kami masing-masing. Namun, pagi ini dia tampak berbeda, dari cara berpakaian, penataan rambut dan gaya nya sangat jauh dari biasanya. Baju dikeluarkan, sepatu berwarna putih, dasi tidak dipakai, dan rambutnya sedikit berwarna merah jika terkena sinar matahari. Aku memanggilnya
"Valen?"
"Hai manis, udah berangkat aja, tumben."
"Kamu kok keliatan beda gitu ya?"
"Beda gimana? Emm.. Oh ini, yaa biar jadi anak gaul, gimana ? Ganteng kan?"
"Ganteng apaan. Dasar kamu."
Tidak banyak percakapanku dengan Valen pada hari itu, aku rasa dia sudah jauh berbeda dan berubah. Bahkan nampaknya dia sudah sedikit melupakanku.
Sepulang sekolah, aku melihat segerombolan orang asik nongkrong di taman sekolah. Saat itu aku tidak sendiri, aku sedang bersama Nadin. Aku terus mengamati satu per satu gerombolan itu, dan  begitu terkejutnya diriku saat melihat Valen berada diantara gerombolan itu. Nadin berkata padaku bahwa gerombolan itu adalah Geng Hero.Geng Hero, ya itulah nama geng turun temurun yang paling terkenal di sekolah ku, geng itu terdiri dari cowok-cowok kelas XI. Setiap tahunnya geng itu mencari anggota baru. Anak yang masuk dalam anggota geng itu bisa dibilang adalah anak orang kaya, tampan dan terkenal di sekolah.  Kini aku baru menyadari ternyata Valen tergabung dalam anggota geng itu dan hal inilah yang menyebabkan ia berubah.
...
Tak terasa hampir satu tahun berlalu, hubunganku dengan Valen kini telah renggang dan terasa sangat jauh. Hampir tidak pernah kami pergi bersama lagi, jangankan pergi ngobrol saja jarang. Akhir-akhir ini ia sering membolos, banyak tugas yang tidak dikumpulkan, padahal hanya sekitar 3 minggu lagi kami akan menghadapi ujian kenaikan kelas.
Pagi-pagi sekali aku terbangunkan oleh suara handphone, aku memang tidak berniat bangun pagi saat itu karena ini adalah hari minggu.
"Hallo", dengan nada aneh bangun tidur.
"Hai cantik, bangun gih. Aku tunggu di depan ya, 15 menit udah rapi, kita pergi"
"What? Kamu dimana?", aku terkejut karena itu adalah suara Valen.
"Aku udah di depan rumah, udah sana mandi, cepetan, aku tunggu"
"Sumpa? Kamu ini, kenapa ngga bilang dulu sih"
"Gausah banyak tanya deh, sana mandi"
"Iya deh iya"
Tanpa berpikir panjang aku segera mandi dan berdandan. Sekitar 30 menit kemudian, aku keluar rumah. Kulihat Valen membawa setangkai bunga mawar, dan ia nampak rapi sekali. Dengan berlari ia membukakan pintu mobil untukku. Aneh memang, aku merasa ada yang berbeda padanya hari ini.
"Kamu mau ngajak aku kemana? Pagi-pagi banget"
"Ada deh, suatu tempat. Ini udah jam 10 Ta, kamu aja yang kesiangan bangunnya"
"Iyaa tapi kan, ini hari libur Len"
"Udah deh aku mau kasih kamu kejutan"
Mendengar Valen bicara seperti itu, membuat hatiku berdebar. Ini bukan hari ulang tahunku, ulang tahun dia juga bukan, hari spesial kita juga bukan, lalu apa yang Valen maksud. Sepanjang perjalanan aku masih memikirkan kejutan dari Valen, tapi aku juga tidak mau besar kepala, karena aku takut aku kecewa dengam prediksiku sendiri.
Sesampai di tempat tujuan Valen menutup mataku dan menuntunku hingga ke tempat yang ia maksud. Rasanya saat itu hatiku semakin berdebar, apakah jangan-jangan Valen akan menyatakan cinta padaku? Ah..Tapi rasanya tidak mungkin. Kami tidak mungkin saling jatuh cinta, kami adalah sahabat. Namun, hal yang ia lakukan ini sangat membuatku penasaran.
"Sebentar ya, satu...duaa...tigaa...buka matanya" (kata Valen sambil membuka penutup mataku perlahan)
Cantik, anggun, mempesona dan sempurna. Itu adalah hal pertama yang kali aku lihat. Seorang wanita cantik seumuran dengan kami berdiri di depanku. Ya itulah yang Valen maksud. Ternyata ia akan memperkenalkan aku pada pacar barunya bernama Citra. Gadis belia yang berasal dari SMA 53, dan dia adalah seorang dancer. Pantas saja ia sangat cantik dan sangatlah ideal. Jujur saja aku sangat terkejut dengan kejutan dari Valen pagi ini. Bukan perasaan cemburu tapi entah mengapa rasanya begitu aneh dan canggung. Setelah cukup lama kami mengobrol, sepertinya dia adalah gadis yang baik. Dia terlihat sangat bersahabat. Entah mengapa kesenanganku bercampur dengan rasa sakit mendalam. Perasaan ingin lari dan berteriak sekencang-kencangnya, tapi aku sadar diri.
...
                Pertemuanku dengan sang gadis pujaan hati Valen membuatku tersadar kami sudah saling dewasa , tidak saling mengandalkan dan memiliki perasaan bebas yang memang sudah sewajarnya terpikat satu sama lain. Aku yang hanya bisa memikirkan bahwa Valen adalah milikku, itu salah. Aku hanya belum bisa membebaskan diriku bahwa dunia ini masih luas dan panjang. Valen hanyalah satu dari jutaan manusia diluar sana yang belum ku jelajah. Sayang bukan berarti cinta, aku sayang pada Valen sebagai teman bukanlah cinta sebagai kekasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA CINTA EPS 19

CERITA CINTA EPS 16

CERITA CINTA EPS 4