CERPEN EDISI I



Tuhan, Aku berbohong.
(Cerpen spesial edisi lebaran)



Tuhan, aku minta maaf. Aku sering berbohong. Pada orang lain bahkan diriku sendiri. Sering ku bohongi perasaan dan senyumku. Bertahun-tahun aku hidup dalam lautan kepedihan, namun tiada yang tahu karena parasku menunjukkan bahwa hidup ini indah. Semua itu karena dia.
***
Cahya namaku, lebih lengkapnya Cahya Karina Permata. Akrabnya aku sering disapa Caca. Nama pemberian sang kakek yang konon katanya lahirnya diriku menjadi cahaya, bukan untuk keluargaku saja bahkan untuk orang lain. Cahaya adalah sumber penerangan, selalu bersinar dalam kegelapan dan pencerah bagi kehidupan. Aku terlahir sebagai kebahagiaan bagi orang disekitarku, bukanlah menjadi beban pikiran lahir maupun batin.
***
“Ca, ayo bangun-bangun, sahur”. Belum ada niatan beranjak dari kasur, rasanya baru tidur satu jam.
“Heh, dibangunin kok. Sahur terakhir lho”
“Iya-iya”. Mata masih merem sambil jalan ke meja makan, melihat layaknya siluet blur tidak jelas.
“Satu, Dua, hemm sahur bertiga lagi tahun ini?”
Tempe goreng ditambah sambel bawang dan sayur bening serasa lebih nikmat dari pada gulai kambing. Bukankah makan itu, bukan masalah makan sama apa, tapi sama siapa. Akhirnya habis juga itu tempe goreng sepiring.
“Imsaaakk!! Imsaaakk!!”. Buru-buru mereka habiskan, pergi ke kamar mandi sikat gigi lalu beranjak ke masjid untuk sholat berjama’ah. Kalau si Caca itu masih SD biasanya langsung pergi sama temennya, tapi dia udah SMA jadi habis sholat ya tidur lagi.
Pukul 10.00 siang perawan kelas 3 SMA baru bangun, mamahnya tidak pernah marah hanya nyindir saja kalau dia baru bangun jam segitu. Lucunya lagi bukannya langsung bantu-bantu dia malah asik mainan di kamar.
“Nyapu depan sana, terus pakaian itu dijemur baru mandi. Uti nanti malem pulang” (Suara dari luar kamar, bukan teriak, nadanya datar). Pertanda harus bersih-bersih dan beberes rumah supaya di kasih THR. Tanpa basa-basi langsung lari keluar kamar dan melaksanakan perintah Ratu kerajaan. Dari siang sampai sore sibuk berkutik mempercantik rumahnya tanpa sadar dia nya belum cantik, mandi aja belum.
Adzan maghrib pertanda pekerjaan dia sudah selesai dan bergegas mandi. Oh maksudnya bergegas buka puasa dulu, setelah itu sholat dan memperindah diri. Semua anak-anak berkumpul di masjid untuk takbiran, berbondong-bondong bawa obor dan petasan. Caca didepan rumah ngeliatin orang-orang mondar-mandir sambil nunggu Utinya mau pulang.
***
Malam takbiran, suara sahut menyahut petasan dan deru takbir beriringan. Semua orang sibuk, nampaknya sibuk karena hari esok adalah hari Raya yang disebut-sebut sebagai hari kemenangan. Makanan disana-sini, masak opor, lontong dan bakso, pakaian disetrika disertai mukena dan koko yang baru seragam sekeluarga. Kecuali keluarga Suryono, ya itu nama ayahku. Boro-boro memakai baju dan mukena baru, saat lebaran apa yang akan kami makan esok saja kami tidak tahu. Nunggu bingkisan dari tante (adiknya Pak Suryo) dan baju serta makanan dari Uti (ibunya Pak Suryo) di malam takbir.
“Alhamdulillah, makasih ya Uti. Iya udah saya bereskan, ini makanannya ditata di meja ya?”. Akhirnya pertolongan masih datang malam ini, kami sekeluarga masih bisa merayakan hari Raya. Senyum sana senyum sini, salam-salaman, nungguin angpao dateng, ya kalau tidak ada mungkin belum rejeki. Untungnya dari tahun ketahun masih ada, pakaianku juga tidak kalah dengan fashion terbaru. Makanan juga masih cukup untuk tamu-tamu selama tiga hari. Lebaran tahun ini lancar.
***
Itu ceritaku dua tahun lalu, baju dan makanan masih ada yang memberi, tapi tidak untuk tahun ini. Sepi, tidak ada yang datang kerumah, bahkan saudara, seakan-akan hilang rasa hormat ayahku sebagai anak pertama yang seharusnya dikunjungi. Keegoisan masing-masing menyebabkan hal ini terjadi, ayahku juga salah karena tidak mau berbaur dengan adiknya karena gengsi. Tapi bukan sepenuhnya salahnya, adiknya juga salah, apa arti kemenangan jika ada saudara sesama muslim menderita di hari itu?
Sabar, selalu tersenyum, aku masih berkeliling ke tempat saudara, meminta maaf jika ada salah, hanya berdua dengan kakakku saja. Ayahku dirumah, tidur karena keegoisannya. Saudaranya di rumah masing-masing bahkan terkadang berkumpul menyambut kami berdua tanpa menanyakan kabar ayah. Ibuku hanya terdiam dirumah tak berdosa, apapun yang ia lakukan saat ini serba salah, bingung siapa yang harus ia bela. Siapa yang salah dalam kasus ini?
Sesungguhnya dibalik kemenangan selalu ada yang menderita, lihatlah sekeliling kalian. Masih pantaskah baju baru dipamerkan namun tetangga kalian mati kelaparan. Tuhan, aku berbohong, aku minta maaf, aku tidak merasakan kemenangan dalam hari Raya tahun ini. Aku sungguh minta maaf. Namun mamah tidak bersalah, aku tidak ingin dia tahu aku kecewa dan sedih. Aku nampak bahagia tahun ini, dengan pakaian bekas dua tahun kemarin dan makan seadanya, padahal ini adalah Hari Raya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

CERITA CINTA EPS 19

CERITA CINTA EPS 16

CERITA CINTA EPS 4